TUGAS TERSTRUKTUR 2

Henri Akbar Mantowi (AE31)

(41324010034)

Studi Kasus Keberhasilan: Kopi Kenangan dan  kegagalan: handphone nokia

1. Latar Belakang

Kopi Kenangan berdiri pada tahun 2017 oleh Edward Tirtanata dan James Prananto dengan misi sederhana: menyediakan kopi berkualitas dengan harga terjangkau bagi masyarakat menengah Indonesia. Dalam waktu singkat, Kopi Kenangan berkembang pesat dengan ratusan gerai di seluruh Indonesia dan status unicorn di sektor food & beverage.

2. Motivasi yang Mendorong

Motivasi Edward dan James bersifat internal. Mereka tergerak untuk mengatasi kesenjangan pasar: kopi kekinian premium hanya dapat dijangkau kalangan menengah-atas, sementara kopi instan kurang memuaskan. Dorongan untuk menghadirkan kopi enak dengan harga terjangkau menjadi motivasi utama.

3. Sikap dan Perilaku Etis

Menjaga kualitas produk dengan bahan baku yang konsisten.

Memberikan kesempatan kerja luas kepada generasi muda di sektor F&B.

Transparan dalam menjaga hubungan dengan investor dan pelanggan.

Etika ini membuat Kopi Kenangan dipercaya baik oleh konsumen maupun pemodal besar.

4. Dampak Mindset terhadap Hasil Usaha

Para pendiri memiliki growth mindset: cepat beradaptasi, memanfaatkan teknologi (aplikasi pemesanan, pembayaran digital), serta memperluas variasi produk. Inovasi terus dilakukan, misalnya dengan menghadirkan menu lokal khas Indonesia yang dikemas modern.

5. Pelajaran yang Dapat Diambil

Motivasi untuk menyelesaikan masalah nyata di masyarakat lebih berkelanjutan daripada sekadar mengejar keuntungan.

Etika bisnis yang menekankan kualitas dan kepercayaan menjadi dasar ekspansi jangka panjang.

Growth mindset memungkinkan startup untuk tumbuh cepat dan relevan dengan tren pasar.


Studi Kasus Kegagalan: Nokia

1. Latar Belakang

Nokia pernah menjadi raksasa ponsel dunia dengan pangsa pasar lebih dari 40% pada awal 2000-an. Namun, perusahaan asal Finlandia ini mulai kehilangan dominasi setelah munculnya smartphone berbasis iOS dan Android. Pada tahun 2013, bisnis ponselnya dijual ke Microsoft karena tidak mampu bersaing.

2. Motivasi yang Mendorong

Motivasi Nokia pada masa kejayaannya berubah dari internal (inovasi teknologi) menjadi lebih eksternal (mempertahankan dominasi pasar dan keuntungan). Fokus perusahaan lebih kepada menjaga status quo daripada memenuhi kebutuhan konsumen yang berubah cepat.

3. Sikap dan Perilaku Etis

Meski tidak ada pelanggaran etika besar, Nokia dikritik karena kurang mendengarkan konsumen dan pasar. Ada indikasi arogansi manajerial yang mengabaikan tren baru. Misalnya, saat Apple meluncurkan iPhone (2007), manajemen Nokia meremehkannya dan tetap berfokus pada feature phone.

4. Dampak Mindset terhadap Hasil Usaha

Mindset Nokia cenderung fixed mindset. Mereka enggan berubah dan terlalu percaya diri dengan model bisnis lama. Akibatnya, inovasi sistem operasi (Symbian) tertinggal jauh dibandingkan iOS dan Android. Keengganan beradaptasi menyebabkan keterlambatan masuk ke pasar smartphone.

5. Pelajaran yang Dapat Diambil

Motivasi eksternal yang berfokus pada mempertahankan status tanpa inovasi berujung pada stagnasi.

Mengabaikan feedback pasar sama saja dengan mengabaikan etika dasar kewirausahaan: mendengarkan konsumen.

Fixed mindset mempercepat kejatuhan meski sebelumnya menjadi pemimpin pasar.


Analisis Perbandingan:

Aspek Kopi Kenangan (Keberhasilan) Nokia (Kegagalan)

Jenis Motivasi Internal: menjawab kebutuhan konsumen kopi Eksternal: mempertahankan dominasi pasar

Etika Bisnis Fokus kualitas, transparansi, kesejahteraan pegawai Kurang mendengar konsumen, arogan terhadap tren baru

Mindset Growth mindset: adaptif, inovatif Fixed mindset: enggan berubah, lamban merespons

Dampak Jadi unicorn F&B pertama di Asia Tenggara Kehilangan dominasi global, dijual ke Microsoft

Pelajaran Etika & inovasi melahirkan keberlanjutan Arogansi & stagnasi berujung kehancuran

Kesimpulan dan Rekomendasi:

Dua studi kasus ini menunjukkan bahwa keberhasilan atau kegagalan wirausaha tidak hanya ditentukan modal atau teknologi, tetapi terutama oleh motivasi, etika, dan mindset.


Kesimpulan utama:

Motivasi internal yang berangkat dari kebutuhan nyata konsumen lebih kuat daripada motivasi eksternal yang hanya mengejar status.

Etika bisnis membangun kepercayaan jangka panjang, sementara abainya etika (meskipun tidak kriminal) dapat membuat konsumen beralih.

Mindset adaptif (growth mindset) menjaga relevansi usaha, sedangkan fixed mindset menyebabkan stagnasi.


Rekomendasi bagi calon wirausaha:

Carilah motivasi dari passion dan kebutuhan nyata masyarakat.

Bangun bisnis dengan integritas, transparansi, dan tanggung jawab sosial.

Jangan pernah berhenti berinovasi, dengarkan konsumen, dan jangan terjebak dalam zona nyaman.


Daftar Pustaka

Rahardjo, M. (2022). Kopi Kenangan: Transformasi F&B di Era Digital. Kompas.

Laporan CNBC Indonesia (2021). Kopi Kenangan Resmi Jadi Unicorn.

Doz, Y. & Kosonen, M. (2008). The Dynamics of Strategic Agility: Nokia’s Rollercoaster Experience. California Management Review.

West, J. & Mace, M. (2010). Browsing as the Killer App: Explaining the Rapid Success of Apple's iPhone. Telecommunications Policy.

Maxwell, J. (2011). Everyone Communicates, Few Connect: What the Most Effective People Do Differently. Thomas Nelson.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUGAS TERSTRUKTUR 9

TUGAS MANDIRI 3

TUGAS MANDIRI 15